Kinescope Magz Edisi 5

download Kinescope Magz Edisi 5

of 45

Embed Size (px)

description

Kinescope Magz 5th Edition.. Enjoy...

Transcript of Kinescope Magz Edisi 5

  • 1. Kinescope F i l m , S e n i & E d u k a s i free magazine - edisi 5 - DESEMber 2013 Desember 2013 l Kinescope l 1
  • 2. 2 l Kinescope l Desember 2013 Desember 2013 l Kinescope l 3
  • 3. Cover Story 10 Review Singkat 4 Dasawarsa Film Indonesia profile 14 Slamet Rahardjo Daftar isi 30 REVIEW 18 soekarno 20 Sagarmatha 24 isyarat 26 make money 28 Killer Toon 32 HOURS Snowpiercer Opini 34 OPINIFilm, Kritik dan Logika 36 Dari Memoar ke Layar Lebar 38 Tattoo dan Subkultur Kaum Urban FESTIVAL Addie MS 66 42 Festival Film Dokumenter 2013 44 Festival Teater Jakarta 2013 46 Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2013 74 Henri Bergson 47 Makassar Film Festival 2013 48 Science Film Festival 2013 52 Jogja Cinephilia 2013 SEJARAH 54 Sejarah Festival Film Indonesia:Merajut Pertemuan Pembuat Dan Penonton Film behind the scene 58 comic 8 Film COMIC 8 yg ber-genre ACTIONCOMEDY ini bercerita tentang delapan anak muda dari berbagai macam background dan kisah hidup masing-masing, yang secara kebetulan merampok sebuah bank dalam waktu bersamaan. liputan 62 Nonton Bareng: Film Adriana 63 Nonton Bareng: Film King of Rock City 64 MISBAR Kineforum: Upaya Kreatif Ciptakan Ruang Alternatift Untuk Film Indonesia 4 l Kinescope l Desember 2013 music 68 kla poject 25 Tahun KLa Project Mendentum Jakarta KOMUNITAS 78 Gudangfilm Cinta Film LokalInternasional DESTINATION 80 Vogels Hostel Hangat dan Bersahabat SENI 82 Tato Dayak Kalimantan Seni merajah tubuh atau tato adalah bagian dari kebudayaan tradisional. Diantara daerah Nusantara yang terkenal dengan seni tatonya adalah suku Dayak di Kalimantan. Bagi budaya Dayak seni tato telah menjadi ciri khas dan identitas masyarakatnya. Berbicara tentang kebudayaan Dayak, kita tidak bisa melepaskannya dari alam, terutama hutan. Desember 2013 l Kinescope l 5
  • 4. f i l m , s e n i & P Penasehat Redaksi Farid Gaban Tino Saroengallo Andi Bachtiar Yusuf Wanda Hamidah Faisal Basri Pemimpin Umum Hasreiza Pemimpin redaksi Reiza Patters Redaktur Bentar Kurniawan Rian Samin Kontributor Shandy Gasella Wella Sherlita Daniel Irawan Daniel Rudi Haryanto Pejred Rohman Sulistiono Novita Rini Thea Fathanah Arbar Suluh Pamuji Desain Grafis & Tata Letak al Fian adha Artistik & Editor Foto Rizaldi Fakhruddin Fotografer Hery Yohans Penjualan & Pemasaran Ollivia Selagusta Community Development Jusuf Alin Lubis Distribusi & Sirkulasi Faisal Fadhly subScriptions Pusat Meditasi Satria Nusantara Jl. RS Fatmawati No. 110A Jakarta selatan Indonesia www.kinescopeindonesia.com info@kinescopeindonesia.com iklan@kinescopeindonesia.com redaksi@kinescopeindonesia.com langganan@kinescopeindonesia.com @KinescopeMagz 6 l Kinescope l Desember 2013 Salam Redaksi e d u k a s i erkembangan Film nasional, memang mengalami pasang surut. Dari masa kejayaan pada tahun 70-80an hingga masa yang dianggap mati suri, tahun 90-2000an awal. Semua insane perfilman nasional mengamini dan bersepakat tentang masa-masa itu. Namun pertanyaannya, apa sebabnya? Mengapa kita diam saja? Sebetulnya, anggapan bahwa tidak ada pergerakan apa-apa, itu merupakan kesalahan besar dan kemalasan mencari tahu. Karena sebetulnya, sudah banyak inisiatif-inisiatif untuk berusaha menyemarakkan perfilman nasional dan penyelamatan budaya kegemaran menonton. Namun, dukungan dari pengambil kebijakan dan amplifikasi media, tidaklah cukup maksimal diberikan pada inisiatif-inisiatif itu. Yang menarik di tahun 2013 ini, semakin berjamurnya komunitas penonton dan penggemar film, baik film lokal maupun internasional, festival-festival film yang semakin marak di berbagai daerah, film-film nasional yang diproduksi dengan mempertaruhkan kualitas dan menambah kuantitas, ini sedang berproses menuju era kebangkitannya. Dari sisi kualitas dan kuantitas, filmfilm nasional yang diproduksi pada tahun 2013 ini, sudah mendekati apa yang pernah terjadi pada masa kejayaan film nasional pada tahun 1970-1980an. Dan ini sebuah situasi yang cukup memberi harapan sekaligus menggembirakan. Uniknya, beberapa film nasional yang diproduksi dengan sangat serius, justru banyak yang dirilis menjelang tutup tahun. Entah kenapa dan apa motifnya, fakta itu terjadi. Bagaimana film Sagarmatha dan Sokola Rimba yang kualitasnya sangat baik, tidak mendapatkan publikasi yang cukup karena tertutup oleh fenomena film Soekarno dengan segala konflik yang menyertainya. Ya, karena rilis film-film tersebut pada waktu yang sangat berdekatan. Sedikit disayangkan, karena nilai edukatif yang ada dalam film-film yang sebetulnya bagus, tidak terdistribusi merata, karena tertutup oleh film yang lain. Positifnya, film-film nasional pada tahun 2013 ini bisa dibilang mengedepankan kualitas, dan ini mencerahkan. Kita berharap, semoga apa yang terjadi di tahun 2013 ini, bisa berlanjut terus di tahun 2014, walaupun mungkin kejadian seperti fenomena tahun 2013 ini akan terjadi lagi, yaitu menumpuknya film-film nasional yang berkualitas di penghujung tahun. Ya, karena perhelatan besar politik nasional juga akan berlangsung di tahun 2014 ini. Semoga saja semangat memproduksi dan menonton film nasional di tahun 2014 dan seterusnya akan bisa melebihi apa yang terjadi di tahun 2013 ini. Ya, semoga. Cover Story Review Singkat 4 Dasawarsa Film Indonesia Menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa tayangan film yang beredar luas itu benarbenar memberikan edukasi yang baik namun tidak meninggalkan sisi hiburan (entertaining). Desember 2013 l Kinescope l 7
  • 5. ON PRODUCTIONS Toilet Blues A 2014 Film Schedule Desember 2013 njani (Shirley Anggraini) kabur dari rumah setelah ia dituduh terlibat dalam tindak asusila dengan teman laki-lakinya. Ia mengikuti Anggalih (Tim Matindas), teman laki-laki dekatnya dari SMP yang sedang berjalan ke Seminari Katolik setelah liburan sekolah selesai. Dalam perjalanannya, ayah Anjani yang berkuasa mengirim Ruben (Tio Pakusadewo), investigator berandal, untuk membawa Anjani pulang. Ruben membuntuti, membujuk dan memperdaya Anjani dengan cara iblis. Toilet Blues adalah pertanyaan benar dan salah, surga dan neraka yang tidak selalu dimainkan untuk umum, seperti halnya grafiti serampangan yang ada di toilet umum yang dikunjungi Anjadi dalam perjalanannya dengan Anggalih. Film Indonesia Desember Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Nusantara 1930. Dari tanah kelahirannya, Makasar, Zainuddin berlayar menuju tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Di sana ia bertemu Hayati. Kedua muda-mudi itu jatuh cinta. Tapi, adat menghalangi. Zainuddin hanya seorang melarat tak berbangsa, sementara Hayati perempuan Minang keturunan bangsawan. Lamaran Zainuddin ditolak keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, laki-laki kaya berbangsa yang memang ingin menyuntingnya. Zainuddin memutuskan merantau ke tanah Jawa. Zainudin bekerja keras dan menjadi penulis terkenal. Dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati bersama Aziz, suaminya. Kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 9 Cahaya di Langit Eropa 9 Tayang 5 Desember 2013 Soekarno Tayang 11 Desember 2013 Isyarat Tayang 12 Desember 2013 Mengejar Setan Tayang 19 Desember 2013 Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Tayang 24 Desember 2013 Laskar Pelangi 2: Edensor Tayang 24 Desember 2013 lank Nggak Ada Matinya S Tayang 24 Desember 2013 R Lets Play, Ghost L ima sahabat remaja: Natasha si pemberani, Diana si pesolek, Davina si lugu, Kathy si penyair gagal, dan Rhonda si waria sableng berlibur ke sebuah vila terpencil di Puncak berdasarkan iklan internet. Mereka tidak tahu, bahwa di tempat itu sebelumnya pernah terjadi serentetan kematian misterius. Sejak awal kedatangan, mereka disambut dengan sikap memusuhi dari para pembantu. Kathy berhasil mengetahui cerita legenda dari seorang pembantu yang diam-diam naksir padanya. Sesuatu yang jahat akan muncul bila ada yang menyebutkan kalimat, Lets Play! sebanyak lima kali. Tidak percaya pada mitos ini, saat bermain Truth or Dare, para remaja menantang Rhonda untuk menyebut kalimat itu. Sang hantu terusik dan ia mulai mengajak main seluruh penghuni yang datang, satu demi satu. Dan ia tidak ingin selesai bermain sampai semuanya menemui ajal. icky Bagaskoro (Rizky Nazar), pelajar SMA tingkat akhir, mengalami dilema: mengejar mimpinya menjadi pengajar bagi anak-anak terlantar atau mengikuti keinginan ayahnya, Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy), untuk meneruskan pendidikan setinggi-tingginya. Bagas berharap Ricky akan mengikuti jejaknya menjadi politikus. Bagas sedang berjuang menjadi presiden Indonesia periode 20142019 menggantikan Presiden Jusuf Syahrir (Deddy Sutomo). Kesibukannya membuat hubungannya dengan Ricky menjadi renggang. Ricky sama sekali tidak setuju dengan langkah ayahnya. Ningrum (Donna Harun), sebagai ibu dan istri yang setia, selalu berusaha menyatukan mereka. Persaingan menuju kursi kepresidenan sangat ketat antara Bagas Notolegowo, Faisal Abdul Hamid (Rudy Salam) dan Syamsul Triadi (Akri Patrio). Bagas kurang waspada. Satu keputusan sederhananya membuat semua impiannya porak-poranda. Kehancuran Bagas membangkitkan keingintahuan Ricky untuk menelusuri kasus tersebut. Upaya ini mempertemukan Ricky dengan Khrisna Dorojatun (Donny Damara), pengacara idealis. Selain itu Ricky juga mulai